Ketika Tekad dan Tuhan Bertemu : My Story in STIS



          ini cerita tentang pengalamanku masuk STIS : Enjoy it :D     

STIS. Apa itu? Memang STIS tidak seterkenal STAN atau sekolah kedinasan lain. Aku pun mengetahuinya hanya dari teman baikku saat SMA yang diberi brosur dari bapaknya. Tak pernah terlintas di pikiranku untuk sekolah di tempat yang berbasis statistik meskipun aku suka matematika. Aku cukup lemah dalam materi statistik karena emang dasarnya gak teliti hehe.. Tapi siapa sangka aku berhasil masuk disini dengan sebuah perjuangan panjang yang aku sendiri tak menyadarinya . .
Waktu itu masih kelas 3 SMA, waktu yang digunakan untuk menyiapkan kelanjutan studi. Aku tertarik dengan istilah sekolah kedinasan. Sekolah gratis + gaji + kepastian kerja ? siapa yang tidak tergiur? Setelah melihat – lihat semua daftar sekolah kedinasan, aku pun berencana untuk mendaftar di tiga sekolah ikatan dinas : STAN, AMG, dan eemmm S.T.I.S. Ya STIS adalah putusan-tak-ter-prioritaskan yang aku pilih sekedar cari pengalaman saja.
Saat itu setelah ujian nasional 2011, mulailah pendaftaran sekolah – sekolah itu dibuka. AMG dan STIS pun ikut, namun STAN belum buka. Jadi aku mendaftarkan diri di Sipencatar AMG yang lebih dahulu mulai dan kemudian mendaftar USM STIS. Saat itu aku fokus belajar untuk mengikuti ujian tertulisnya. Pengumuman pertama, aku lulus tes tertulis. Mulai bertambah niatku untuk sekolah disana. Sehingga saat ujian tertulis STIS, aku sama sekali tidak belajar. Toh aku bakal sekolah di AMG ~ke GR an~ . tapi itulah yang terjadi. Soalnya ternyata tak semudah yang aku pikirkan. Dari 60 soal matematika hanya beberapa yang bisa ku jawab. Sedangkan bahasa inggris dan pengetahuan umum masih bisa ku atasi. Sangat bisa ditebak kalau aku tak bakal lolos tes ini. Di tes AMG pun ternyata aku gagal di seleksi terakhir yang membuatku sangat sedih dan putus asa. Mimpiku untuk sekolah di jakarta pupus lah sudah. Maafkan aku mama, papa.
Akhirnya aku masuk di sebuah universitas negeri di Palu, Sulawesi Tengah, daerah asalku. Untungnya, aku sempat ikut SNMPTN dan lulus di Jurusan Matematika FMIPA. Disini aku melanjutkan hidupku dan melupakan rasa sedih dan kecewa yang aku dan orang tuaku rasakan. Aku menjalani hidupku sebagai mahasiswa biasa di universitas biasa.
Hampir setahun berlalu, saat itu pengumuman pendaftaran sekolah yang dibuka mulai bertebaran. Aku tergelitik untuk mencoba kembali, tapi rasa kecewaku masih ada. Iseng – iseng aku meminta pendapat sepupuku yang sudah bekerja dan menetap di Jakarta dan kebetulan sedang ada di rumah. Dia menasehatiku tentang nasib dan jalan hidup yang tak seorangpun tahu. Akhirnya aku memutuskan untuk ikut kembali dalam arus pendaftaran sekolah ikatan dinas. Malangnya, saat itu pendaftaran AMG sudah tutup dan STAN tidak buka. Satu – satunya pilihan adalah STIS. Yakinkah? Aku sendiri ragu mengingat soal – soal ujian kemaren yang sempat bikin pusing dan mual (ini serius! hehe). Aku meyakinkan diriku, kemaren kan belum pake persiapan, gimana sih hasilnya kalo aku pake persiapan? Aku utarakan keinginanku kepada orangtuaku dan mereka pun setuju.
Aku mengikuti seluruh tahap pendaftaran. 2 minggu sebelum ujian tertulis, aku fokus belajar untuk USM STIS, disamping mengerjakan tugas kuliahku. Aku mengerjakan tugas kuliah dan belajar dari jam 7 malam hingga jam 9. Kemudian dari jam 9 sampe jam 12 malam aku fokus belajar untuk USM. Begitu seterusnya selama 2 minggu. Ku pinjam pula buku USM STIS milik temanku yang tahun lalu juga ikut USM. Tapi pendaftaran ini aku sembunyikan dari teman – teman. Hanya beberapa orang saja yang tahu. Aku malu kalau mereka tahu. Entah kenapa. Dan selama 2 minggu itu, pikiranku nyangkut di bayangan sekolah di Jakarta, bagaimana nantinya aku disana, seolah Jakarta begitu dekat denganku dan rasanya sangat bahagia.
Oke dan hari tes pun tiba. Aku bersama salah seorang seniorku yang akan tes pun berangkat ke TKP. Aku berpikir, oke sekarang aku udah melakukan persiapan matang, seharusnya tes ini bisa ku taklukan. Dan you know what? Soalnya (masih) membuatku mual dan pusing saking sulitnya (and i’m serious!) untuk pengerjaan matematika aku hanya bisa mengerjakan 16 soal selama 2,5 jam tadi. Oh tidak! Aku tak mau gagal lagi! Akupun menyelesaikan soal bahasa inggris dan pengetahuan umum semuanya sebisanya. Waktu tersisa setengah jam untuk mengerjakan soal pengetahuan umum. Aku telah selesai dengan soal pengetahuan umum, dan pikiranku melayang ke soal matematika yang tak lagi boleh dibuka. What should I do? Terlintas pikiran gila di benakku. Benar atau salah, LJK matematika ini tak boleh kosong! Ku tarik nafas panjang sambil berdoa, Ya Tuhan kalau memang jalanku disini, maka mudahkanlah. Apapun hasilnya kuserahkan semua padamu. Dan aku mulai melingkari jawaban – jawaban di LJK itu dengan penuh perasaan dan estimasi bahwa itu adalah jawaban benar (dan tanpa lihat soal). *PS : CARA INI SANGAT TIDAK DIANJURKAN BAGI KAMU YANG MAU MASUK STIS JUGA* Sungguh saat itu hatiku hancur. Apa yang bisa kuharapkan dengan LJK yang berisi jawaban-dengan-perasaan itu? Yang aku bisa saat itu  adalah pulang dan mencurahkan perasaanku di pelukan mama ( manja? Biarin aja :P )
Beberapa hari kemudian, pengumumannya muncul dan? Aku adalah salah satu dari 5 peserta yang lolos dari provinsiku. Kaget? BAANGEET!  Demi apa aku hampir nangis karena Tuhan sudah menunjukkan jalannya yang lebih baik dari tahun kemarin. Terima Kasih Tuhan. Tapi, masih ada tes lain psikotes dan wawancara.
Hari saat tes psikotes, aku berangkat dengan bekal doa dari ortu dan materi psikotes yang aku telah pelajari sebelumnya serta penglaman waktu tes AMG dulu. Sampai disana kami berlima disambut panitia dan mengerjakan soal psikotest sampai pukul 12.00 . ku pikir akan disambung dengan tes wawancara, tapi ternyata tidak! Tes wawancara dilaksanakan hari senin jam 8. Oh my God! Aku juga akan ada Ujian akhir Kalkulus 2. Bagaimana ini??
Hari senin saat tes wawancara. Aku udah sampai di BPS jam 7. Hatiku gelisah memikirkan ujian kalkulus 2 ku. Akupun belum minta izin sama dosennya. Aku pun meminta ijin sama salah satu panitia untuk ikut ujian kalkulus lebih dulu (berhubung dosennya killer abis). Tapi ternyata tidak diperbolehkan. Apa boleh buat, ku telpon salah satu temanku yang ikut ujian, meminta ijin untuk ikut tes wawancara. Dan syukurnya diperbolehkan *Sujud syukur*
Beberapa hari kemudian, pengumuman keluar dan . . . *jerengjengjeng* aku lolos tahap psikotes sendirian. Sendiri. Sendirian. Padahal masih ada tes kesehatan lagi, kalau aku gagal disini ntar provinsiku gak punya utusan lagi :’( pokoknya aku harus sehat! Aku mulai rajin olahraga dan makan makanan bergizi. Akhirnya meskipun, kemarin sempat terganjal angka kolesterol yang lumayan, akhirnya aku lolos sebagai Mahasiswi STIS ang 54 :D Meninggalkan teman – teman di kampusku yang begitu kaget aku akan pindah ke Jakarta. Maaf ya teman – teman :’(
Dan : Terimakasih Tuhan, engkau mempertemukan tekadku untuk sekolah di Jakarta dengan kehendakmu :’) Mama Papa, aku akan berjuang disini lebih keras daripada perjuanganku untuk masuk STIS :’) Semangat 9^o^9

Komentar

  1. Selamat siang,Kak. Mau tanya tentang psikotest..
    Dulu, pas Kakak test menggambar pohon, apa dari bentuk daunnya benar2 harus seperti pohon atau hanya keriting2 gitu Kak? Aku baca di berbagai sumber mengatakan setiap bentuk keriting dan lonjong kayak daun beneran punya definisi yang beda2. Terimakasih Kak...
    Soalnya aku baca dr berbagai sumber, definisi daun keriting dan bentuk daun yang sebenarnya beda satu sama lain

    BalasHapus
    Balasan
    1. Dear Yustika, Maaf banget saya udah lama ga buka blog karena kesibukan kerja sekarang hehe.. Udah 5 tahun berlalu juga jadi gak inget kemaren gambar apa hehe.. tapi waktu itu saya juga membaca berbagai tips dan trik cara membuat pohon untuk psikotest kok..jadi berdasarkan itu saya menggambar pohon saya itu (yang entah saya juga lupa).. Good Luck ya :D

      Hapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Momentku di Sekolah Tinggi Ilmu Statistik aka STIS Part 1

Jelajah Alam 54 part 1

Character Building Training Angkatan 54 STIS Day 1